Genetika vs Epigenetika

Oleh: Dr. Meity Elvina, M.Ked, SpOG, PGCert.


Mengapa intervensi Epigenetika bisa lebih mudah dilakukan dibandingkan intervensi terhadap genetika yang lebih sulit?
Jawabannya: karena Intervensi GENETIKA memerlukan teknologi canggih berbasis terapi gen, terapi stemcell dgn riset-riset knock out gen yang hampir mustahil dilakukan dgn cara konvensional berbasis kedokteran tradisional atau komplementer.

Tinjauan berbeda jika kita mempelajari ilmu Epigenetika.
Berdasar riset-riset yg dipublikasi akhir-akhir ini, saya mulai tafakur memikirkan adanya  peluang bagi praktisi kedokteran Islam utk melakukan upaya-upaya MODIFIKASI Epigenetika untuk mencegah gen menjadi rusak ataupun terjadinya *silent mutasi* yang merupakan sebab terjadinya banyak penyakit yang berhubungan dengan sangat banyaknya penyakit degeneratif/penyakit kanker dewasa ini.

Modifikasi epigenetika ini ternyata bekerjanya mempengaruhi Proses Transcriptome yang merupakan representasi langsung dari aktivitas gen (DNA) setiap sel tubuh manusia.

Implementasi ILMU EPIGENETIKA dengan tuntunan hidup orang yg beriman tidak mungkin mengatakan 99% gen yang non-coding tadi sebagai *no known purpose* (tidak ada satupun yang tahu tujuannya).

Kita harus haqqul yakin mengetahui tujuannya, yaitu:
Sebesar 99% non-koding protein (DNA) tersebut adalah bersifat non jasadiyah. Yakni lebih ke Ruhiyah/nafs dan Qolbu sebagai pesan ilahiyah yakni blue print (fitrah ketauhidan) di setiap gen manusia yang ditujukan untuk untuk Tunduk Taat Patuh beribadah kepada Allah.

Yakni:
Kecenderungan setiap ruh manusia utk Patuh kepada fitrah agama Allah. Dengan tuntunan uswatun hasanah kita Rasulullah SAW.

Sekilas Tafakur sesaat , melalui tulisan tentang:
Mengenal Fitrah Sel Tubuh Manusia

Allah SWT menciptakan manusia dimulai dari menyempurnakan jasad manusia sejak dari saripati tanah, lalu menjadi sperma bertemu dengan telur, menjadi nutfah, alaqoh, mudghoh dstnya lalu sampai 40 hari yang ketiga di dalam rahim dan menjadi sempurna. (Ruh) ditiupkan ke janin (jasad) pada usia sekitar 16 minggu oleh Allah SWT.

Pertemuan jasad dan ruh inilah yang disebut dengan jiwa (nafs).

Ketika manusia telah memiliki jiwa, maka Allah meminta persaksian *wa asyhadhum anfusihim, "alastu bi robbikum?" Qoluu balaa syahidna* bukankah Aku Robb kalian?, benar ya Allah, kami bersaksi
(QS Al Araf 7:172)

Inilah peristiwa persaksian atau syahadah Rubbubiyatullah di alam rahim atau alam ruh. Sesunguhnya manusia sejak sebelum lahir telah diinstalasi fitrah, dalam hal ini fitrah keimanan.

Fitrah inilah sesungguhnya yang merupakan
*innate guidance* yang Allah persiapkan untuk mengenal Allah, melakukan hal hal kebaikan dan menerima outer guidance yaitu Kitabullah Al Quran.

Maka manusia lahir bukan seperti kertas kosong atau kertas putih atau kosongan atau tabula rasa seperti pendapat John Locke, namun manusia telah diinstal berbagai kebaikan bawaan ( *innate goodness* ) sejak sebelum dilahirkan. Manusia dilahirkan suci maksudnya bukan tanpa potensi, justru manusia lahir membawa berbagai potensi kebaikan.

Maka kita diminta utk tetap pada fitrah Allah, tidak merubahnya atau tidak menyimpangkannya.
Tetaplah pada fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas fitrah Allah, itulah agama yang kokoh tegak, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya (QS 30:30)

Konsep dengan keyakinan bahwa manusia lahir dengan membawa Fitrah ini sesungguhnya kelak mempengaruhi bagaimana kita berfikir, cara pandang, cara merasa dan cara bersikap/berperilaku secara keseluruhan.

Maka Rasulullah SAW menguatkan diri kita sebagai orangtua agar rileks dan optimis bahwa anak sudah lahir dengan membawa kebaikan berupa fitrah, jangan banyak intervensi, jangan banyak menjejalkan, dgn aturan yang kita buat sendiri.

Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi (alHadits)

Komentar